25 September 2005
Saat itu, aku berada di depan kelas, menunggu adzan buka puasa tiba. Ya, saat itu adalah bulan Ramadhan. Aku duduk di depan kelas bersama teman2ku yg lain. Aku yg saat itu masih berpikiran polos, maklum baru lulus SD, sifatku terlalu kekanak-kanakan. Aku mengenal apa itu rasa suka. Tapi aku belum mengenal apa itu cinta. Aku selalu mengatakan kalau aku jatuh cinta pada laki2 yang aku sukai, tapi nyatanya itu hanya sebatas suka. Bukan lebih. Bukan cinta.
Temanku memanggilku, karena saat itu aku adalah salah satu penggemar band yang terkenal di Indonesia. Temanku itu mengenalkanku pada keponakan member band tadi. Aku bersemangat mendengarnya, aku tidak sabaran menunggunya. Dan tak lama kemudian, sosok seorang laki2 dengan rambut acak2an, tas ransel yang ia sandang sebelah, berjalan dari gerbang menuju dalam halaman sekolah. Ia, awalnya hanya bisa menghipnotis diriku. Aku menyukainya. Ya, aku menyukainya sejak pandangan pertama. Tapi belum bs kusimpulkan kalau aku sedang jatuh cinta padanya.
Ia, kakak kelasku. Saat itu kelas 2 SMP, kelas 8-A. Ia juga seorang ketua osis. Ia seorang pemain band, pemegang vokal. Ia juga pemain basket dan voli.
Beberapa hari telah lewat, sosok laki2 itu masih terus dipikiranku. Aku sangat sangat sangat ingin berkenalan dengannya. Tapi apa dayaku? Aku orangnya pemalu, tidak mau ambil resiko. Aku berpkiran kalau sosokku terlalu jelek dimatanya. Maka aku urungkan saja semua itu.
Teman2ku muali menggodaku karena aku tidak pernah lepas menyebut namanya. Mereka mulai menyimpulkan kalau aku jatuh cinta padanya. Aigo, aku sama sekali tidak terpikirkan kearah sana. Aku sempat menolak perasaan itu. Kenapa? Tidak tau. Mungkin aku masih terlalu kecil. Namun, hatiku lama kelamaan tak bisa menahannya lagi. Aku mulai mendengarkan lagu2 yang menggambarkan perasaanku saat itu. Ya, hanya dalam waktu semalam, aku menyadari aku benar2 jatuh cinta pada laki2 itu.
Apa yg membuatku jatuh cinta padanya? Tidak tahu. Aku jatuh cinta begitu saja. Bukan karena ia adalah keponakan salah satu member band yang aku suka. Bukan karena ia populer. Bukan karena ia manis. Aku tidak bs menemukan jawabannya.
Dan ini pulalah rasa yang pertama kali aku rasakan. Rasa ini benar2 beda daripada sebelumnya. Aku tidak bs menggambarkan perasaanku saat itu. Aku hanya selalu salah tingkah di hadapannya, wajahku memerah kalau jarak kami dekat.
Tapi tidak selamanya jatuh cinta itu bahagia. Aku justru merasa tersiksa. Aku harus menahan detak jantungku yang berdegup dgn keras. Aku justru merasa tidak nyaman kalau kau ada di dekatku. Dan satu lagi, aku merasakan sakit hati pertama kali saat aku mengetahui kalau aku sudah jatuh hati pada seorang temanku. Gosh, betapa sakitnya saat itu aku. Mungkin bagi siapapun yang merasakan itu semua, terasa basi. Namun tidak, jika kalian merasakannya sendiri. Aku hampir membenci temanku itu, aku berusaha tersenyum saat mereka duduk berdua, aku berusaha menggoda mereka berdua. Tapi apa? Saat aku pulang, aku menangis. Aku mengamuk. Aku tak rela kalau kisah cintaku yang kandas seperti ini.
Rasa kesakitan itu terus kubawa, ku mencoba tegar, mencoba mengiraukannya. Tidak setelah mereka putus. Mantan laki2 itu menghampiriku dan mengatakan apakah aku masih menyukai laki2 itu. Dgn ragu2, kujawab ya. Ia mengatakan akan menjodohkan aku bersamanya. Dgn segera ku tolak. Aku tidak peduli dgn bantuan orang lain, aku bs berjuang utk diriku sendiri. Karena ia adalah cinta pertamaku.
Hari2 terus jalani tanpa ada kemajuan. Aku hanya bs menatapnya dari kejauhan, tersenyum di saat ia tersenyum, wajah memerah saat ia tertawa, dll. Sampai suatu saat salah satu temanku mengatakan agar aku mengatakan perasaanku pada laki2 itu. Ragu, tapi aku akan mencobanya. Dgn bantuan dia, aku menyatakan perasaanku lewat sms. Meskipun kata2nya sederhana, tapi itu semua sdh mewakili semua perasaanku
No comments:
Post a Comment